“Al imanu yaziidu wa yanqushu, yaziidu biththaa'ati wa yanqushu bilma'siati”
"iman itu bisa bertambah (naik) dan bisa berkurang(turun), bertambah dengan ketha'atan dan berkurang dengan kema'siatan"
Pertanyaannya: "BOLEHKAH IMAN KITA TURUN?"
*Tulisan ini adalah tulisan yang bertujuan supaya kita semua mampu merubah cara pandang tehadap suatu arti..atau yg serupa dengannya.
Jawabannya: TIDAK BOLEH!
Dewasa ini, banyak orang-orang yang hanya tahu bahwa iman itu kadang naik dan kadang turun.
Anehnya mereka begitu mudah menerima dan mengatakannya kepada orang lain atau bahkan mereka merasa biasa-biasa saja dan tidak sedikit terkadang kita lihat ada orang yang menyeru kepada kebaikan, terdengar dari mulut-mulut mereka terucap "duh..iman ku hari ini sedang turun". Ironisnya lagi! orang yang menyeru pun malah menganggap perkataan temannya tadi wajar-wajar saja dan malah berkata "ooh tak apa, kan iman tuh kadang naik dan kadang turun".
*Tulisan ini adalah tulisan yang bertujuan supaya kita semua mampu merubah cara pandang tehadap suatu arti..atau yg serupa dengannya.
Jawabannya: TIDAK BOLEH!
Dewasa ini, banyak orang-orang yang hanya tahu bahwa iman itu kadang naik dan kadang turun.
Anehnya mereka begitu mudah menerima dan mengatakannya kepada orang lain atau bahkan mereka merasa biasa-biasa saja dan tidak sedikit terkadang kita lihat ada orang yang menyeru kepada kebaikan, terdengar dari mulut-mulut mereka terucap "duh..iman ku hari ini sedang turun". Ironisnya lagi! orang yang menyeru pun malah menganggap perkataan temannya tadi wajar-wajar saja dan malah berkata "ooh tak apa, kan iman tuh kadang naik dan kadang turun".
sungguh aneh?! Mungkin mereka lupa dengan terusan hadits diatas!? (MUNGKIN)
Ingat! Iman itu naik karna kita tha'at dan iman itu turun karna kita ma'siat..ingat! Karna MA’SIAT!
So, tetap kah bahwa iman itu boleh turun?
Yah benar...tentunya iman itu harus senantiasa naik (meski sedikit demi sedikit) atau minimal konstan (tapi tetap hidup imannya), dan tidsk boleh turun, karna jika ada yg membolehkan atau menganggapnya biasa-biasa saja maka sama halnya dengan dia membolehkan perbuatan ma'siat.
Hal ini pun berhubungan dengan hadits lain seperti cuplikannya ini "sungguh merugi bagi orang yang hari ini sama saja dengan hari kemarin dan sungguh beruntung bagi orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin dan celaka bagi orang yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin".
Walloohu'alam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar