Kawan, sahabat alam-pembelajar kehidupan..
kali ini, saya menghadirkan sebuah surat dari seorang hamba Allooh yang mengingatkan kita semua untuk kembali pada fitrah diri, fitrah kehidupan.
siapapun Anda, sebaiknya membaca pesan ini.
Teringat sabda Rosulullooh SAW. dalam sebuah haditsnya yang masyhur, bahwa kalian (kaum muslimin) akan mengikuti jejak langkah orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Bahkan bila mereka masuk lubang kadal sekalipun, niscaya kalian akan masuk juga kedalamnya. Ketika itu para shahabat bertanya: apakah yang dimaksud adalah mengikuti Yahudi dan Nashroni ya Rosulullooh?. Rasul ketika itu mengatakan: ya, siapa lagi kalau bukan mereka!
Memperhatikan gerak tingkah muslimin dewasa ini, mereka bukan lagi akan masuk lubang kadal bahkan mereka sudah berada didalamnya! Anda saksikan jutaan atau bahkan puluhan juta atau lebih (kaum muslimin) berbangga diri, berlomba-lomba mengikuti gaya hidup yang ditawarkan mereka. Mulai dari cara berpakaian, upacara, pola pergaulan, hingga pengelolaan masyarakat dan tata hukum bernegara. Semuanya mengacu pada barat yang kini didominani pemikiran Yahudi dan Nashroni.
Apakah Islam tidak memiliki kaidah tersendiri dalam semua itu?! Cara berpakaian Islam, cara perkawinan Islam, pola pergaulan Islam, singkatnya dalam menatan atau mengatur kehidupan ini; ideologinya Islam, politiknya Islam, ekonominya Islam, sosial dan pendidikannya Islam, budayanya Islam, pertahanan dan keamanannya juga Islam.
Semuanya ada didalam Islam, namun anehnya justru itu semua yang kini ditinggalkan mayoritas muslimin. Mereka lebih suka berlomba-lomba memasuki lubang kadal dan bribadah didalamnya.
Kondisi yang lama, berbelas bahkan berpuluh tahun terkungkung dilubang kadal, semenjak lahir hingga dewasa, memang membawa pengaruh besar pada cara berfikir dan sikap mental seseorang. Wajar saja bila saat seorang muslim (yang pasti beragama Islam) bila dihadapkan pada "Rumah Islam" sendiri ia akan tercengang, waspada dan memasang sikap melawan, mengapa?! Ia tidak menyangka bahwa bisa ada kehidupan lain diluar "lubang kadal" yang sudah lama ditinggalinya! Ia takut dan menganggap itu berbahaya.
Tidak banyak orang yang cukup beruntung untuk bisa meninggalkan "lubang kadal" dan dengan enak hati melangkah menuju "Rumah Islam" yang memang cocok untuknya.
Tidak banyak orang yang cukup beruntung untuk bisa meninggalkan "lubang kadal" dan dengan enak hati melangkah menuju "Rumah Islam" yang memang cocok untuknya.
Mudah-mudahan tulisan ini bisa membuat kita semua sadar dan bersegera pulang ke "rumah" yang disana saudara-saudara kita sudah menunggu kedatangan dan kepulangan kita.
Mari saudaraku,
Mari saudariku,
Mari kaum Muslimin,
Mari kita berpulang ke "rumah" kita sendiri!
Tidak kah terasa saudaraku?
Tidak kah terasa saudariku?
apakah tidak terasa wahai saudara/i ku?
bahwa "lubang" itu gelap dan menggelapkan, sesak dan menyesakkan, sempit dan menyempitkan, dst. dst.
Kembalilah, pulanglah, saudara-saudara kita sudah menanti disana!
Berjalanlah, teruslah berjalan dalam kegelapan "lubang" itu menuju cahaya "rumah" sendiri, wahai kaum muslimin.
Bumi Allooh,
Salam hormat, saudaramu
nice to read this... ^_^
BalasHapus