Kamis, 20 Oktober 2011

Surat terbuka untuk calon Imam Rumah Tangga

selalu saja dengan cara yang unik, cara yang tepat, dan sangat menghujam. ialah cara Allooh mendidik hamba-Nya.
merasakan ada alur skenario Allooh untukku. pagi ini sangat terasa, saat baru bangun dari tidur. namun, tetap saja misteri tetap saja maha unik. hanya tau setelah semuanya dilalui dan berpikir.
yaa Allooh, terima kasih untuk pendidikan ini, pendidikan dari Robbnya kepada hamba-Nya. pendidikan yang tiada lebih baik darinya.

|Yaa Allooh mampukan aku, maukan aku, juga layakkan aku. Aamiin|--sebuah resolusi perubahan secara hikmah yg langsung diajarkan oleh pemiliknya.
berikut ini adalah surat terbuka untuk calon Imam Rumah Tangga.
 
Assalamu'alaikum... 
Jangankan lelaki biasa, Nabi pun terasa sunyi tanpa wanita. Tanpa mereka, hati, pikiran, perasaan lelaki akan resah. Masih mencari walaupun sudah ada segala-galanya.Walaupun banyak nikmat syurga dirasakan, namun Nabi Adam a.s. tetap merindukan Siti Hawa. Kepada wanitalah lelaki memanggil ibu, istri atau puteri. Dijadikan mereka dari tulang rusuk yang bengkok untuk diluruskan oleh lelaki, tetapi kalau lelaki sendiri yang tidak lurus, tidak mungkin mampu hendak meluruskan mereka.
Tak logis kayu yang bengkok menghasilkan bayang-bayang yang lurus. Luruskanlah wanita dengan petunjuk Allah, karena mereka diciptakan begitu rupa oleh Allah. Didiklah mereka dengan panduan dari-Nya

Yang sementara itu tidak akan menyelesaikan masalah, Kenalkan mereka kepada Allah, zat yang maha kekal, disitulah kuncinya. “Akal setipis rambutnya, tebalkan dengan ilmu. Hati serapuh kaca, kuatkan dengan iman. Perasaan selembut sutera, hiasilah dengan akhlak”.
Suburkanlah karena dari situlah nanti mereka akan menampakkan penilaian dan keadilan Tuhan. Akan terhibur dan berbahagialah mereka, walaupun tidak jadi ratu cantik dunia, Presiden ataupun Perdana Menteri negara atau women gladiator. Bisikkan ke telinga mereka bahwa kelembutan bukan suatu kelemahan. Itu bukan diskriminasi Tuhan. Sebaliknya disitulah kasih sayang Tuhan, karena rahim wanita yang lembut itulah yang mengandung lelaki : negarawan, jutawan dan wan-wan lain. Tidak akan lahir lelaki yang hebat tanpa wanita yang hebat. Wanita yang lupa hakikat kejadiannya, pasti tidak terhibur dan tidak  menghiburkan. Tanpa ilmu, iman dan akhlak, mereka bukan saja tidak bisa diluruskan, bahkan mereka pula akan  membengkokkan.

Apabila wanita tidak kenal Tuhan, mereka tidak akan kenal diri mereka sendiri, apalagi mengenal hakekat lelaki. Kini bukan saja banyak suami yang telah ‘kehilangan’istri, bahkan anakpun akan ‘kehilangan’ ibu, dan bapak akan ‘kehilangan’ puteri. Bila tulang rusuk patah, rusaklah jantung, hati dan limpa. Para lelaki juga jangan hanya mengharap ketaatan wanita tetapi binalah kepemimpinan diri.
Pastikan sebelum memimpin wanita menuju Allah PIMPINLAH DIRI SENDIRI DAHULU KEPADA-NYA. Taatkan diri dengan Allah, niscaya taatlah segala-galanya dibawah pimpinan kita.
JANGAN MENGHARAP ISTRI SEPERTI SITI FATIMAH, KALAU PRIBADI BELUM LAGI SEPERTI SAYIDINA ALI

Wassalamu’alaikum……
Dikutip dan di-edit dari milis Padang Mbulan dari sebuah e-mail yang dipostingkan oleh Enny Handayani (1/12/1999).  

Wahai ikhwan fillah sadarkah engkau bahwa langkahmu telah bengkok, jangan jadikan kami sebagai penggodamu, jangan puji kami atas penampilan kami, tapi tegur kami atas kekhilafan kami karena pujian seringkali membinasakan kami.

Simpan pujianmu setelah kami ‘halal’ untukmu…bukan untuk saat ini. Sebelum kami ‘halal’ untukmu berilah kami waktu untuk mencurahkan rasa cinta kami kepada Kekasih kami YANG MAHA AGUNG.
Jangan ganggu kami ! Munculkan kembali ketegasanmu dalam bersikap, apabila kau ‘meminta’ kami maka ucapkan dengan tegas. Bila kami katakan ‘belum siap’, jangan tunggu kami, kamu akan melihat hal itu tersirat dari kualitas kami.

Tolong sebelum kau ‘meminta’ kami (atas nama Allah), jangan coba-coba memikirkan salah satu dari kami. PIKIRKANLAH BERAPA GRAM CINTA YANG TELAH KAU BERIKAN KEPADA PENCIPTAMU. Yakinlah bukan nafsumu yang memilih kami untukmu, tetapi Allah Yang Maha Bijaksana-lah yang memilihkan kami untukmu. Sekarang jadilah lelaki yang baik dan biarkan kami mempersiapkan diri kami menjadi wanita yang baik, sesuai janji-Nya pada kita ( surat An-Nuur : 26 ). Takkan terwujud sakinah, mawaddah, warahmah tanpa iman.

(Dikutip dan di-edit dari bulletin Forum Silaturahim Alumni Rohis “Ash-Shaff” SMU 2 Bekasi, penulis : “Anggrek Berduri”).

Sahabat…Saat ini gunakan waktu untuk mempersiapkan diri mempersembahkan yang terbaik pada pasangan jiwa. Adalah dusta, gombal mengatakan “Akan kulakukan segalanya untukmu”, tapi kenyataannya meremehkan kewajiban sebagai Imam, pemimpin keluarga (An Nisa : 34).  Adalah dusta mengatakan “kau akan bahagia bersamaku”, tapi tidak ikhtiar membimbing  dan justru membiarkannya mendapat laknat dan siksa Allah.

Kita belajar bahwa : Tingkah laku        kebiasaan        Sifat         Kepribadian. Bila ingin memiliki pribadi yang islami. Mulailah melakukan perilaku yang islami secara berulang-ulang agar menjadi suatu kebiasan. Kebiasaan yang berulang-ulang menjadi sifat. Dan pada akhirnya menjadi pribadi yang islami. Amin ya Allah. Mintalah bimbingan dan hidayah kepada Allah.

Jadi mulailah dari sekarang saudaraku, secara bertahap. Agar bila saatnya tiba, telah menjadi imam dengan pribadi yang Islami. Siap dengan kewajiban menjadi pemimpin. Tak hanya kesejahteraan fisik, tapi kesejahteraan hati dan iman pun harus terpenuhi.

Jangan hanya menuntut mendapatkan yang terbaik dari pasangan jiwa, tapi berusahalah mempersembahkan yang terbaik. Karena cinta adalah memberi, bukan meminta.

Aku tidak bermaksud menggurui, hanya mengingatkan (Al-Ashr : 1-3). Tolong ingatkan aku juga bila salah dalam melangkah. Kita mungkin masih jauh dari sosok pengikut setia Muhammad (wallahu’alam). Namun setidaknya kita masih bisa terus belajar, hingga malaikat maut datang ‘menyapa’.
2 tulisan (surat) diatas mungkin tidak mewakili pikiran semua wanita. Dan aku tidak terlalu berharap semua orang akan setuju. Tapi aku yakin surat itu mewakili hati nurani setiap hamba Allah yang berusaha menggapai ridho-Nya.
Istana Biru, Juni 2001

Tidak ada komentar:

Posting Komentar